JALAN JALAN SUMATRA BARAT - BUKITTINGGI
Sahabat wisata kali ini kita akan membahas sebuah kota yang cukup populer yaitu BUKITTINGGI bisa di kata kan populer karena banyak objek wisata yang bagus,unik dan juga memiliki sejarah yang harus kita ketahui.
Selain tempat nya yang bagus dan unik BUKITTINGGI juga memiliki kuliner yang cukup terkenal seperti : nasi kapau,katupek pical,cindua ampiang,karupuang siram,es tebak,sanjai Dll
Kota BUKITTINGGI adalah kota terbesar ke dua di sumatra barat,indonesia.BUKITTINGGI pernah menjadi ibu kota indonesia pada masa pemerintahan Darurat Republik Indonesia.BUKITTINGGI di juluki sebagai parijs van sumatra oleh orang belanda
Kota BUKITTINGGI adalah kota terbesar ke dua di sumatra barat,indonesia.BUKITTINGGI pernah menjadi ibu kota indonesia pada masa pemerintahan Darurat Republik Indonesia.BUKITTINGGI di juluki sebagai parijs van sumatra oleh orang belanda
Berikut beberapa objek wisata yang ada di BUKITTINGGI yang harus sahabat wisata kunjunggi.
![]() | |
| JAM GADANG
Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar".
Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.
KINANTAN ZOO
Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan ini juga merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia, dan satu-satunya di Sumatera Barat, dengan koleksi hewan terlengkap di pulau Sumatera. RUMAH GADANG Rumah Gadang atau Rumah Godang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjuang.[1]. Rumah dengan model ini juga banyak dijumpai di Negeri Sembilan, Malaysia. Namun tidak semua kawasan di Minangkabau (darek) yang boleh didirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari saja Rumah Gadang ini boleh didirikan. Begitu juga pada kawasan yang disebut dengan rantau, rumah adat ini juga dahulunya tidak ada yang didirikan oleh para perantau Minangkabau. BENTENG FORT DE KOCK Fort de Kock adalah benteng peninggalan Belanda yang berdiri di Kota Bukittinggi , Sumatera Barat, Indonesia. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama Fort de Kock, kini Bukittinggi. ![]() JEMBATAN LIMPAPEH Jembatan Limpapeh adalah jembatan gantung di atas Jalan Ahmad Yani, Bukittinggi yang menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan benteng Fort de Kock. Bentangan jembatan memiliki panjang 90 meter dan lebar 3,8 meter. PASAR ATEH
Perkembangan pasar Loih Galuang yang sekarang disebut juga Pasar Ateh, membuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1900 mengembangkan sebuah loods
ke arah timur, tepatnya pada kawasan pinggang bukit yang berdekatan
dengan selokan yang mengalir di kaki bukit. Karena lokasi pasar tersebut
berada di kemiringan, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Pasar
Teleng (Miring) atau Pasar Lereng. Perkembangan berikutnya di sekitar
kawasan tersebut muncul lagi beberapa pasar, di antaranya Pasar Bawah
dan Pasar Banto. Pasar-pasar tradisional di sekitar kawasan Jam Gadang
ini, kemudian berkembang menjadi tempat penjualan hasil kerajinan
tangan dan cendera mata khas Minangkabau. Dalam penataan pasar,
pemerintah Hindia Belanda juga menghubungkan setiap pasar tersebut
dengan janjang (anak tangga), dan di antara anak tangga yang terkenal adalah Janjang 40.
![]() RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA Rumah Kelahiran Bung Hatta Bukittinggi ada di Jalan Soekarno-Hatta No. 37 Bukittinggi, Sumatera Barat. Saat itu kami dalam perjalanan ke Lembah Harau. Sesuai namanya, Rumah ini merupakan tempat dimana Bung Hatta dahulu dilahirkan, dan tinggal sampai berusia 11 tahun. |
![]() |
| LOBANG JEPANG Lubang Jepang Bukittinggi (juga dieja Lobang Jepang) adalah salah satu objek wisata sejarah yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan. |
![]() |
| NGARAI SIANOK Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, di kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandanganyang sangat indah dan juga menjadi salah satu objek wisata andalan provinsi. |








Tidak ada komentar:
Posting Komentar